<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>the imaginary desire..... Comments</title>
	<link>http://amin.blogsome.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Sun, 05 Oct 2008 02:33:06 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>

	<item>
		<title>by: Imam Iqbal</title>
		<link>http://amin.blogsome.com/2006/10/18/idul-fitri-dan-kerinduan-eksistensi-oleh-amien-thohari/#comment-2</link>
		<pubDate>Mon, 06 Nov 2006 05:03:10 +0000</pubDate>
		<guid>http://amin.blogsome.com/2006/10/18/idul-fitri-dan-kerinduan-eksistensi-oleh-amien-thohari/#comment-2</guid>
					<description>Ada hal yang hendak saya garis bawahi dari tulisan ini, yaitu tentang &quot;pulang kampung&quot;, khususnya ketika mas Amin mengidentifikasinya sebagai bentuk kembali kepada fitrah. Sebagai bagian dari orang-orang yang lebaran tempo hari sama-sama tidak pulang kampung, nampaknya kita sama-sama harus mempertanyakan ulang tentang apa hasrat yang berada di balik ritual pulang kampung tersebut. ada seorang teman yang setiap liburan mesti akan pulang kampung dengan alasan dia masih memiliki keluarga di rumah. teman lain pulang kampung karena memang demikian ritual yang dia lakukan setiap tahunnya. kemudian, salah seorang teman pulang kampung karena harus &quot;memperoleh kesepakatan&quot; untuk menikah bulan depan. tapi, ada juga teman yang pulang kampung dan sampai hari ini belum kembali karena merasa jengah dengan suasana Jogja yang terkadang menjememukan.
dari beragam apresiasi pulang kampung di atas (daftar ini masih bisa diperpanjang sekehendak hati), kita bisa bertanya: apresiasi yang manakah yang menunjukkan hasrat 'kembali kepada fitrah' yang dimaksud dalam tulisan ini? dengan kata lain, apresiasi 'pulang kampung' yang manakah yang autentik?
bagi saya, pulang kampung bukan sekedar hasrat, tapi juga bagian dari diskursus. itu tampak nyata dari acara pulang kampung teman saya yang ingin menikah bulan depan di atas. bagaimanapun juga, ia harus mendapatkan pengakuan liyan (mungkin bapaknya atau ibunya) untuk hasrat menikahnya itu. jadi, baginya, pulang kampung bukanlah untuk memenuhi hasrat &quot;pada-dirinya&quot;, tetapi menjadi sarana bagi pemenuhan hasrat di balik yang nampak sebagai fenomena kepulangannya ke kampung halaman.
kasus ini mungkin membutuhkan analisa yang lebih spesifik. tapi secara jelas hal ini mengisyaratkan bahwa tidak ada generalitas yang pasti ketika kita menerapkan teori al-Laqa'in (baca: Lacan)dalam menyikapi fenomena sosial dan budaya. justru sepertinya kita harus memahami terlebih dahulu detail-detailnya.
demikian pula, ketika ada penerapan yang general dalam teori ini, lantas apakah ketika kita (yang tidak mudik)bisa dianggap tidak memiliki hasrat sama sekali? tentu saja tidak. yang terjadi adalah: ada ruang dialog antara hasrat dan diskursus yang harus dicermati dalam membaca contoh kasus ini.
mungkin di sana celah yang bisa dijadikan untuk bahan kajian kasus kita selanjutnya.
tengkiyu....</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Ada hal yang hendak saya garis bawahi dari tulisan ini, yaitu tentang &#8220;pulang kampung&#8221;, khususnya ketika mas Amin mengidentifikasinya sebagai bentuk kembali kepada fitrah. Sebagai bagian dari orang-orang yang lebaran tempo hari sama-sama tidak pulang kampung, nampaknya kita sama-sama harus mempertanyakan ulang tentang apa hasrat yang berada di balik ritual pulang kampung tersebut. ada seorang teman yang setiap liburan mesti akan pulang kampung dengan alasan dia masih memiliki keluarga di rumah. teman lain pulang kampung karena memang demikian ritual yang dia lakukan setiap tahunnya. kemudian, salah seorang teman pulang kampung karena harus &#8220;memperoleh kesepakatan&#8221; untuk menikah bulan depan. tapi, ada juga teman yang pulang kampung dan sampai hari ini belum kembali karena merasa jengah dengan suasana Jogja yang terkadang menjememukan.<br />
dari beragam apresiasi pulang kampung di atas (daftar ini masih bisa diperpanjang sekehendak hati), kita bisa bertanya: apresiasi yang manakah yang menunjukkan hasrat &#8216;kembali kepada fitrah&#8217; yang dimaksud dalam tulisan ini? dengan kata lain, apresiasi &#8216;pulang kampung&#8217; yang manakah yang autentik?<br />
bagi saya, pulang kampung bukan sekedar hasrat, tapi juga bagian dari diskursus. itu tampak nyata dari acara pulang kampung teman saya yang ingin menikah bulan depan di atas. bagaimanapun juga, ia harus mendapatkan pengakuan liyan (mungkin bapaknya atau ibunya) untuk hasrat menikahnya itu. jadi, baginya, pulang kampung bukanlah untuk memenuhi hasrat &#8220;pada-dirinya&#8221;, tetapi menjadi sarana bagi pemenuhan hasrat di balik yang nampak sebagai fenomena kepulangannya ke kampung halaman.<br />
kasus ini mungkin membutuhkan analisa yang lebih spesifik. tapi secara jelas hal ini mengisyaratkan bahwa tidak ada generalitas yang pasti ketika kita menerapkan teori al-Laqa&#8217;in (baca: Lacan)dalam menyikapi fenomena sosial dan budaya. justru sepertinya kita harus memahami terlebih dahulu detail-detailnya.<br />
demikian pula, ketika ada penerapan yang general dalam teori ini, lantas apakah ketika kita (yang tidak mudik)bisa dianggap tidak memiliki hasrat sama sekali? tentu saja tidak. yang terjadi adalah: ada ruang dialog antara hasrat dan diskursus yang harus dicermati dalam membaca contoh kasus ini.<br />
mungkin di sana celah yang bisa dijadikan untuk bahan kajian kasus kita selanjutnya.<br />
tengkiyu&#8230;.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
