October 18, 2006

Puasa; Ritual Agama, Ritual Hasrat Oleh: Amien Thohari

Ada bebarapa fase yang biasa terjadi di bula Ramadhan dalm kehidupan budaya kita. Pertama, di hari-hari awal hampir semua orang tidak berada dirumah. Masjid penuh sesak oleh para jama’ah shalat tarawih. Suasana  jadi riuh rendah oleh sahut menyahut suara tadarrus al-Qur’an antar mushola. Semua orang tak mau ketingalan menabuh beduk bulan Ramadahan. karena ini semata-mata adalah memang perintah agama. Kedua, secara perlahan-lahan tapi pasti eforia itu menyusut dari hari ke hari. Biasanya terjadi di hari-hari belasan atau bahkan hingga hari-hari dua puluhan. Pada hari-hari belasan barisan jama’ah kemabli ke titik normal seperti sebelum puasa. Makanya para da’i jika ditawari mengisi pengajian di bulan ramadhan biasa memilih di hari-hari awal. Ketiga, menjelang hari raya. Di tahap ketiga ini ada migrasi umat secara luar bisa besar dari satu tempat ibadah ke tempat ibadah yang lain. Serbuan dan eforia yang terjadai didalamnya tidak kalah dengan hiruk pikuk ibadah di hari-hari awal. Supermarket, mall, pasar swalayan, biasanya lebih menarik dikunjungi dari pada tempat-tempat ibadah.

Yang sedang terjadi adalah disitu perayan agama baru “konsumerisme”.  Pada hari-hari menjelang lebaran orang seperti ekstasi dan membabi buta membeli barang-barang yang bahakan sama-sekali tidak dubutuhkan. Bukan hanya mereka yang tergolong kelas atas yang memamng biasanya doyan belanja. tetapi juga orang-orang dengan pendapatan pas-pasan pun larut dalam perayaan lebaran kosumrisme. tidak jarang untuk memenuhihasarat konsumeris itu dibela-belain meminjam sana-sani yang hasaratnya terpenhi. ritual agama lalu berubah menjadi riual hasrat.

Dengan melihat apa yang terjadi diakhir bulan menjelang ramadhan dapat dikatakan bahwa puasa sekalipun tidak mampu menahan hasrat konsumerisme yang lebih berbahaya dari apapun. Tetapi juga barangkali niali-nilai tertentu atau normsa-norma agama sendiri justru memberi peluang meledaknya budaya konsumerisme. Ada banyak kemungkinan termasuk fondasi terpenting bagi mekanisme kapitalisme sendiri ditopang oleh rekayasa pasar.
 
Yang tak terpuaskan
Kunci memahami mengapa ini terjadai terutama terletak pada bahwa konsumerisme menyangkut soal psikologi. Ada tiga insting manusia yang menjadi sasaran utama strategi penjulan komoditas  dan itu luas dilakukan. Satu, memainkan insting nafsu pemilikan. Dua, memainkan insting privilese dan status. Tiga, memainkan daya tarik romantisme-sensualitas…."

Konsumerisme” harus dibedakan dari “konsumsi”. konsumsi bersangkut paut dengan pemaiakin barang/jasa untuk hidup layak dalam konteks sosio-ekonomi-kultural tertentu. Ia terutama menyangku soal kelayakan survival. Sedangkan konsumerisme  adalah soal lain lagi. Bagi banyak orang, konsumerisme seperti pemburuan prestasi. Bagi para kapten iklan, konsumerisme seperti tambang emas yang tidak habis digali. Tetapi, bagaimana kita mengartikan praktik konsumerisme? Jika dipadatkan, kira-kira begini: konsumerisme adalah konsumsi yang mengada-ada. Soalnya adalah bagaimana kita tahu suatu konsumsi telah mencapai tahap mengada-ada? Sebagai contoh, bintang tenis AS, Serena Williams, mengaku terus shopping pakaian, tas, sepatu, dan aksesori anjingnya. "Aku terus shopping, belanja hal-hal yang tidak kubutuhkan; aku bahkan jarang memakainya 

Konsumerisme bukan soal ada-tidaknya uang untuk shopping. Pun bukan soal laba besar yang dikeruk melalui permainan insting konsumen. Lalu, mengapa di tengah lautan kemiskinan yang luas, orang menumpuk barang-jasa bermerek yang berharga absurd? Kunci untuk memahami konsumerisme adalah psikologi, bagaimana "konsumsi yang mengada-ada" dilembagakan sebagai nirvana.

Para kapten iklan tahu, barang/jasa obyek konsumerisme tidak punya arti dalam diri sendiri. Mereka diburu dengan harga absurd karena memberi kita klaim pada rasa pédé dan eksklusif. Lantaran eksklusif, maka juga prestise dan status. Fakta bahwa semua itu ternyata bukan nirvana tidak soal karena status dan rasa pédé tertinggi pun dengan cepat dilampaui, konsumerisme bagai urusan mengejar langit di atas langit. Orang tidak hanya merasa naik mobil, tetapi Jaguar; tidak hanya merasa mengenakan pakaian, tetapi memakai Armani.

Konsumerisme adalah sebentuk narsis, yang dengan mengkonsumsi mengada-ada, memberi ucapan selamat pada diri sendiri. Tetapi soal konsumerisme tidak melulu menyangkut budaya atau sesuatu yang dikonstruksi dan lepas dari soal lain. Tahun 99 masyarakt AS mengahbisken sekitar 8 milyar dollar untuk mengkonsunsi alat-alat kosmetik. Di tahun yang sama PBB kesulitan mengumpulkan dana untuk membangun fasilitas bagi warga yang selama puluhan tahun mengalami kesulitan memdapat air besrsih. Pada 2005 kemarin sementara konsumerisme semakin meluas 147.000 anak menderita gizi buruk dan busung lapar.

Mengkonsumsi secara mengada-ada juga terkait dengan efektifitas penyelenggaran negara dan keadilan kebijakan. Penggusuran rumah penduduk atau intitusi pendidikan, seperti kasus mall malioboro, secara khusus didorong oleh konsumerisme yang narsisitik.

Mesin Hasrat  
Apa yang sesungguhnya menggrakan kehidupan ini? Lacan akan menjawab dengan yakin: hasrat. Manusia adalah makhluk imajiner. segala sesuat yang membentuk ego idealnya tau identitasnya selalu dikonstruksi oleh imajinasinya sendiri. Konsumerisme sameta-mata digerakan oleh hasrat menjadi apa yang dihasrati oleh orang lain. sebab itu konsumerisme meledak.  Dengan mengkonsumsi secara mengada-ada oarang merasa memiliki identitas yang diperlukan untuk mendapat pengakuan dari liyan.

Meskipun bentuk-bentuk hasrat sangat kompleks, berdasarkan pandangan Lacan, setidak-tidaknya  ada dua bentuk utama hasrat, yang juga beroperasi dalam masyarakat posmodern. Pertama, hasrat .menjadi. (to  be), yaitu hasrat menjadi obyek cinta —kekaguman, idealisasi, pemujaan, penghargaan—  .sang  lain.  (the  others).(7) Orang merasa  menjadi  obyek  cinta  sang  lain  (penonton, fans, rakyat), oleh sebab itu ia akan bertingkah-laku dan menciptakan citra (image) dirinya sedemikian rupa agar ia tetap dicintai —narcissistic  desire. Inilah, misalnya,  orang-orang yang memperlihatkan eksistensi  dirinya  lewat  tanda-tanda  dan gaya hidup: mobil mewah, rumah megah, fashion eksklusif, parfum mahal, dsb. 

Kedua,  .hasrat  memiliki.  (to have),  yaitu    hasrat  memiliki  sang  lain  (materi, benda, orang, kekuasaan, posisi) sebagai sebuah cara untuk memenuhi kepuasan diri —anaclictic desire.  .Hasrat memiliki. merupakan fondasi masyarakat posmodern, yang dilembagakan  lewat  sistem  kapitalisme  global. Di dalamnya, orang dikonstruksi secara sosial untuk .mengingingkan. iringan-iringan benda yang sebetulnya secara hakiki tidak mereka butuhkan. Di sini kapitalisme global merubah  .keinginan.  (want)  menjadi .kebutuhan. (need).  Artinya,  kebutuhan tersebut .diciptakan.. Kapitalisme tidak hanya memproduksi barang-barang, tapi juga .memproduksi kebutuhan. dan dorongan .hasrat. di baliknya, untuk keberlanjutan produksi —inilah wacana libidonomics.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://amin.blogsome.com/2006/10/18/puasa-ritual-agama-ritual-hasrat-oleh-amien-thohari/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.