October 18, 2006

Idul Fitri dan Kerinduan Eksistensi Oleh Amien Thohari

Yang selalu terjadi menjelang akhir ramadhan; harga cabe naik, barang-barang kebutuhan pokok merangkak, pasar hiruk pikuk, orang-orang berjubel di pusat-pusat pertokoan, terminal penuh, bandara antri, stasiun sesak, lalu-lintas padat, jalur Pantura macet sekian kilometer, dan seterusnya. Eforia!.

 

Barangkali Indonesia adalah satu-satunya negara yang punya tradisi mudik paling ramai. Hari raya di negara-negara lain dirayakan dengan cara yang tidak sesibuk kita. Lebaran mungkin dimaknai sebagai gong terakhir dari parade panjang ibadah puasa. Seharusnya seorang mukmin sedih atau tidak terlalu merasa gembira di hari raya. Sebab hari itu hakikatnya adalah perpisahan. Bukankah di awal ramadhan bahkan mungkin jauh sebelum itu kita sering memanjatkan do’a yang diajarkan Rasulullah ;” wabalighna ramadhana” Dan itu berarti ramadhan merupakan inti pembuktian ketundukan hamba dan labirin untuk masuk ke dalam samudra keluasan rahmat Tuhan.  Di dalamnya ada misteri yang tak pernah dapat terkuak, sebab puasa tak dapat diukur oleh manusia, ia murni hak prerogatif  Tuhan.

 

Tetapi selalu ada eforia di hari raya seolah ungkapan keterlepasan dari derita yang sebulan lamanya. Bahkan hasrat yang dikekang selama sebulan itu keluar dalam bentuk konsumerisme tanpa batas. Dan tanpa sadar kita melakukanya, ramai-ramai. Adakah itu ekspresi ke-Fitri-an kita atau praktik kelarutan dalam budaya massa?

 

Kembali kepada fitrah”. Ungkapan itu menyiratkan bahwa ada lapisan-lapisan yang menutupi diri dan mata hati kita. Akhirnya membuat kita tak lagi bisa melihat realitas dengan kejernihan mata batin Ia seperti karat yang melapisi besi tua. Karat itu bermacam-macam, misalnya, menumpuk kekayaan untuk kepentingan pribadi, meledakakn bom, menggusur rakyat miskin,  mengkonsumsi barang yang sesungguhnya tak dibutuhkan, dan sebagainya. Singkatnya, kita kerapkali mengidentifikasikan diri kita dengan sesuatu yang bukan kita. Celakanya, seringkali juga kita menganggap liyan itu adalah ‘diri’ kita. Prestise, status, identitas, jabatan, dan sebagainya adalah liyan yang secara tak sadar membentuk kesadaran dan tak jarang itu dianggap sebagai jati diri yang asli. Karena itu yang kadang kita sebut “aku” sesunguhnya adalah status itu, pretise itu, gengsi itu, jabatan itu, dan popularitas itu.

 

Lepas dari Kerutinan
Hampir setiap orang tenggelam dalam putaran hari yang itu-itu saja. Kita seolah-olah seperti dipaksa oleh sebuah sistem yang akhirnya dirasakan sebagai sesuatu yang biasa dan alami. Tak ada ruang sedikit pun untuk menarik nafas panjang. Bagi kelas workaholic putaranya mungkin demikian; bangun pagi, berangkat kerja, istirahat dan makan siang, kerja lagi sampai sore, pulang kerumah, terjebak macet, sampai dirumah diujung magrib, lelah, tidur, bangun pagi , berangkat kerja lagi,  begitu seterusnya. Rutinitas itu berputar berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun. Semua itu tak bisa ditolak dalam kehidupan yang bertumpu pada ketepatan dan kepastian ala cara kerja sebuah mesin.

 

Ketenggelaman dalam kehidupan banal yang demikian menjadikan kita semakin terkikis dari kedalaman jiwa. Rutinitas yang banal itu membentuk kesadaran semu yang terkadang juga dianggap sebagai identitas diri. Kesadaran yang dibentuk oleh kerutinan pasti akan merepresi keinginan-keinginan terdalam yang biasanya disebut ‘makna’. Karena rasionalitas kehidupan modern yang bertumpu pada cara kerja industri melahirkan pola rutinitas layaknya mesin. Yang tidak sesuai dengan kemauan mesin silahkan menyingkir.

 

Namun di dalam ketenggelaman tersebut sebenarnya ada sesuatu yang menarik-narik  untuk kembali pada diri yang otentik. Rasa bosan yang kadang kita rasakan dan stress yang kerap hingap merupakan bentuk-bentuk gejala dari panggilan jiwa ini. Tetapi tak banyak orang yang betul-betul mendengarkanya dan memenuhi panggilanya. Bahkan tidak jarang keinginan untuk kembali pada yang otentik itu justru dimanipulasi lagi dengan mengumbar hasrat baru.

 

Sesuatu itu, bagi Jeques Lacan seoarng Psikoanalis-Struktural, adalah keinginan (the real) yang terus menerus direpresi oleh prinsip-prisip realitas yang banal. Keinginan yang direpresi itu tidak hilang, sebaliknya ia terus berada dalam dunia unconsious dan selalu mencari celah untuk tampil keluar. Banalitas hidup penuh dengan liyan-liyan yang hakekatnya bukan diri yang otentik tetapi secara tak sadar dipandang sebagai sesuatu yang natural. Hasrat konsumerisme, misalnya, berangkat dari kelarutan dalam hasrat liyan sebagai cara menambal rasa identitas yang berlubang akibat ketenggelaman diri pada rutinitas banal itu. Konsumerisme terjadi bukan barang yang dibeli benar-benar dibutuhkan, tetapi terutama karena barang itu memberi rasa identitas terhadap pemiliknya. Kembali pada fitrah hakekatnya adalah kembali pada diri yang otentik dengan melepaskan balutan-balutan hasrat yang menipu.               

 

Rindu “Kampung”
Dalam konteks Idul Fitri, kampung, bukan satuan teritori gografis atau wilayah administratif tertentu. Ia mengandaikan wilayah imajiner yang menyimpan moment-moment penting dalam hidup seseorang. Keakraban, kekeluargaan, kebersamaan, keramah-tamahan, jalinan  kesadaran dan ruang-waktu tertentu yang diikat oleh peristiwa khusus. Kampung adalah rahim yang mangasuh, membimbing, dan menyulam diri individu pada awal kehadiranya di dunia. Kampung hidup di alam batin.

 

Suasana kampung mengandaikan sebuah penyatuan eksistensial bagi seorang individu. Alam kampung akan terus hidup seiring perjalanan kehidupan seseorang. Tetapi “suasana” kampung tidak sewaktu-waktu dapat diulang kembali. Moment penyatuan tersebut hilang ketika seseorang pergi meninggalkan kampungnya. Namun keinginan untuk merasakan kembali suasana penyatuan itu tidak lenyap meski seseorang pergi ke negeri lain. Fantasi akan kehidupan kampung yang mengasuh dan membimbing akan selalu hadir dan membangkitkan keinginan untuk “pulang”. Hasrat untuk kembali inilah yang menggerakan orang untuk mudik di hari lebaran.

 

 ‘Mudik’ memperlihatkan migrasi manusia dalam jumlah besar dari satu tempat ke tempat lain. Ia juga berarti proses perjalanan untuk kembali menemukan rasa penyatuan yang hilang itu. Kehidupan kota yang bertumpu pada modernitas bagitu digdaya menggerus kesadaran penyatuan dengan segala bentuk hasrat yang ditawarkanya. Seseorang yang meninggalkan kampung lantas pergi ke kota, misalnya, ia akan dipaksa untuk menghasrati banyak hal yang pada hekekatnya bukan ‘diri’nya. Menjadi orang metropolis berati merepresi ke-kampung-an itu. Hingga sampai pada tingkat tertentu tak jarang orang lalu menjadi asing dengan ‘diri’nya sendiri. Karena hasrat liyan itu dipaksa didaku sebagi dirinya. Namun kesadaran kampung-halaman tidak hilang. Ia terus hidup dan membuat sesorang rindu akan penyatuan dengannya.

 

Jika secara sosiologis mudik berarti proses perjalanan menemukan penyatuan dengan kampung-halaman, maka secara religius puasa adalah proses perjalanan menemukan penyatuan eksistensial.     

 

Rindu “Penyatuan”        
Secara metaforis kampung juga berarti ekspresi kerinduan setiap manusia untuk kembali kepada “diri” yang azali. Biasanya hal ini diungkapkan ”Kembali kepada yang fitri” atau”seperti bayi yang baru dilahirkan”. “Diri” disini bukan sebuah entitas yang berdiri otonom dan lepas dari yang lain. Ia juga bukan “ide” tentang diri itu sendiri. Karena baik angapan tentang ‘diri’ yang otonom atau ‘ide’ tentang diri itu sendiri pada hakekatnya adalah liyan. Lacan menyebutnya Yang Nyata atau al-Hakikat. Menurutnya manusia selalu mengalami kerinduan untuk  kembali kepada Yang Real itu. Akan tetapi yang real tidak dapat diraih kembali. Inilah yang akhirnya melahirkan hasrat yang tak pernah habis terpuaskan.

 

Fitrah atau yang real  tidak mengenal distingsi-distingsi. Distingsi muncul ketika, menurut Lacan, manusia pada usia bayi memasuki tahap yang disebutnya Fase Cermin. Bayangan maya yang dilihatnya di cermin diaku sebagai dirinya. Liyan inilah yang kemudian ditempel dan didaku sebagi identitas. Namun peran liyan terus berlanjut selama hidupnya. Ia dapat mengambil berbagai macam bentuk; popularitas, status, kekayaan, nama besar, jabatan dan sebagai. Sebab itulah jauh-jauh hari ungkapan luhur mengingatkan “hubbu ad-dunya ra’su kulli khatiatin” (kecintaan pada duniawi akan menyeret pada kejahatan). Akibatnya motiv dibalik setiap tindakan tidak keluar dari kedalaman jiwa dan hati nurani melainkan distrukturasi oleh tradisi yang menghegemoni.

 

Puasa sebenarnya adalah upaya membersihkan diri dari liyan-liyan yang memalingkan kita  dari suara hati. Sehingga segala ucapan dan perbuatan sering bertentangan dengan rasa keadilan, nilai kejujuran, dan prinsip kemanusiaan universal. Idul Fitri berarti kembali kepada rasa penyatuan eksistensial dan kembali mendengarkan suara hati nurani.    

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://amin.blogsome.com/2006/10/18/idul-fitri-dan-kerinduan-eksistensi-oleh-amien-thohari/trackback/

  1. Ada hal yang hendak saya garis bawahi dari tulisan ini, yaitu tentang “pulang kampung”, khususnya ketika mas Amin mengidentifikasinya sebagai bentuk kembali kepada fitrah. Sebagai bagian dari orang-orang yang lebaran tempo hari sama-sama tidak pulang kampung, nampaknya kita sama-sama harus mempertanyakan ulang tentang apa hasrat yang berada di balik ritual pulang kampung tersebut. ada seorang teman yang setiap liburan mesti akan pulang kampung dengan alasan dia masih memiliki keluarga di rumah. teman lain pulang kampung karena memang demikian ritual yang dia lakukan setiap tahunnya. kemudian, salah seorang teman pulang kampung karena harus “memperoleh kesepakatan” untuk menikah bulan depan. tapi, ada juga teman yang pulang kampung dan sampai hari ini belum kembali karena merasa jengah dengan suasana Jogja yang terkadang menjememukan.
    dari beragam apresiasi pulang kampung di atas (daftar ini masih bisa diperpanjang sekehendak hati), kita bisa bertanya: apresiasi yang manakah yang menunjukkan hasrat ‘kembali kepada fitrah’ yang dimaksud dalam tulisan ini? dengan kata lain, apresiasi ‘pulang kampung’ yang manakah yang autentik?
    bagi saya, pulang kampung bukan sekedar hasrat, tapi juga bagian dari diskursus. itu tampak nyata dari acara pulang kampung teman saya yang ingin menikah bulan depan di atas. bagaimanapun juga, ia harus mendapatkan pengakuan liyan (mungkin bapaknya atau ibunya) untuk hasrat menikahnya itu. jadi, baginya, pulang kampung bukanlah untuk memenuhi hasrat “pada-dirinya”, tetapi menjadi sarana bagi pemenuhan hasrat di balik yang nampak sebagai fenomena kepulangannya ke kampung halaman.
    kasus ini mungkin membutuhkan analisa yang lebih spesifik. tapi secara jelas hal ini mengisyaratkan bahwa tidak ada generalitas yang pasti ketika kita menerapkan teori al-Laqa’in (baca: Lacan)dalam menyikapi fenomena sosial dan budaya. justru sepertinya kita harus memahami terlebih dahulu detail-detailnya.
    demikian pula, ketika ada penerapan yang general dalam teori ini, lantas apakah ketika kita (yang tidak mudik)bisa dianggap tidak memiliki hasrat sama sekali? tentu saja tidak. yang terjadi adalah: ada ruang dialog antara hasrat dan diskursus yang harus dicermati dalam membaca contoh kasus ini.
    mungkin di sana celah yang bisa dijadikan untuk bahan kajian kasus kita selanjutnya.
    tengkiyu….

    Comment by Imam Iqbal — November 6, 2006 @ 5:03 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.