October 18, 2006

Puasa; Ritual Agama, Ritual Hasrat Oleh: Amien Thohari

Ada bebarapa fase yang biasa terjadi di bula Ramadhan dalm kehidupan budaya kita. Pertama, di hari-hari awal hampir semua orang tidak berada dirumah. Masjid penuh sesak oleh para jama’ah shalat tarawih. Suasana  jadi riuh rendah oleh sahut menyahut suara tadarrus al-Qur’an antar mushola. Semua orang tak mau ketingalan menabuh beduk bulan Ramadahan. karena ini semata-mata adalah memang perintah agama. Kedua, secara perlahan-lahan tapi pasti eforia itu menyusut dari hari ke hari. Biasanya terjadi di hari-hari belasan atau bahkan hingga hari-hari dua puluhan. Pada hari-hari belasan barisan jama’ah kemabli ke titik normal seperti sebelum puasa. Makanya para da’i jika ditawari mengisi pengajian di bulan ramadhan biasa memilih di hari-hari awal. Ketiga, menjelang hari raya. Di tahap ketiga ini ada migrasi umat secara luar bisa besar dari satu tempat ibadah ke tempat ibadah yang lain. Serbuan dan eforia yang terjadai didalamnya tidak kalah dengan hiruk pikuk ibadah di hari-hari awal. Supermarket, mall, pasar swalayan, biasanya lebih menarik dikunjungi dari pada tempat-tempat ibadah.

Yang sedang terjadi adalah disitu perayan agama baru “konsumerisme”.  Pada hari-hari menjelang lebaran orang seperti ekstasi dan membabi buta membeli barang-barang yang bahakan sama-sekali tidak dubutuhkan. Bukan hanya mereka yang tergolong kelas atas yang memamng biasanya doyan belanja. tetapi juga orang-orang dengan pendapatan pas-pasan pun larut dalam perayaan lebaran kosumrisme. tidak jarang untuk memenuhihasarat konsumeris itu dibela-belain meminjam sana-sani yang hasaratnya terpenhi. ritual agama lalu berubah menjadi riual hasrat.

Dengan melihat apa yang terjadi diakhir bulan menjelang ramadhan dapat dikatakan bahwa puasa sekalipun tidak mampu menahan hasrat konsumerisme yang lebih berbahaya dari apapun. Tetapi juga barangkali niali-nilai tertentu atau normsa-norma agama sendiri justru memberi peluang meledaknya budaya konsumerisme. Ada banyak kemungkinan termasuk fondasi terpenting bagi mekanisme kapitalisme sendiri ditopang oleh rekayasa pasar.
 
Yang tak terpuaskan
Kunci memahami mengapa ini terjadai terutama terletak pada bahwa konsumerisme menyangkut soal psikologi. Ada tiga insting manusia yang menjadi sasaran utama strategi penjulan komoditas  dan itu luas dilakukan. Satu, memainkan insting nafsu pemilikan. Dua, memainkan insting privilese dan status. Tiga, memainkan daya tarik romantisme-sensualitas…."

Konsumerisme” harus dibedakan dari “konsumsi”. konsumsi bersangkut paut dengan pemaiakin barang/jasa untuk hidup layak dalam konteks sosio-ekonomi-kultural tertentu. Ia terutama menyangku soal kelayakan survival. Sedangkan konsumerisme  adalah soal lain lagi. Bagi banyak orang, konsumerisme seperti pemburuan prestasi. Bagi para kapten iklan, konsumerisme seperti tambang emas yang tidak habis digali. Tetapi, bagaimana kita mengartikan praktik konsumerisme? Jika dipadatkan, kira-kira begini: konsumerisme adalah konsumsi yang mengada-ada. Soalnya adalah bagaimana kita tahu suatu konsumsi telah mencapai tahap mengada-ada? Sebagai contoh, bintang tenis AS, Serena Williams, mengaku terus shopping pakaian, tas, sepatu, dan aksesori anjingnya. "Aku terus shopping, belanja hal-hal yang tidak kubutuhkan; aku bahkan jarang memakainya 

Konsumerisme bukan soal ada-tidaknya uang untuk shopping. Pun bukan soal laba besar yang dikeruk melalui permainan insting konsumen. Lalu, mengapa di tengah lautan kemiskinan yang luas, orang menumpuk barang-jasa bermerek yang berharga absurd? Kunci untuk memahami konsumerisme adalah psikologi, bagaimana "konsumsi yang mengada-ada" dilembagakan sebagai nirvana.

Para kapten iklan tahu, barang/jasa obyek konsumerisme tidak punya arti dalam diri sendiri. Mereka diburu dengan harga absurd karena memberi kita klaim pada rasa pédé dan eksklusif. Lantaran eksklusif, maka juga prestise dan status. Fakta bahwa semua itu ternyata bukan nirvana tidak soal karena status dan rasa pédé tertinggi pun dengan cepat dilampaui, konsumerisme bagai urusan mengejar langit di atas langit. Orang tidak hanya merasa naik mobil, tetapi Jaguar; tidak hanya merasa mengenakan pakaian, tetapi memakai Armani.

Konsumerisme adalah sebentuk narsis, yang dengan mengkonsumsi mengada-ada, memberi ucapan selamat pada diri sendiri. Tetapi soal konsumerisme tidak melulu menyangkut budaya atau sesuatu yang dikonstruksi dan lepas dari soal lain. Tahun 99 masyarakt AS mengahbisken sekitar 8 milyar dollar untuk mengkonsunsi alat-alat kosmetik. Di tahun yang sama PBB kesulitan mengumpulkan dana untuk membangun fasilitas bagi warga yang selama puluhan tahun mengalami kesulitan memdapat air besrsih. Pada 2005 kemarin sementara konsumerisme semakin meluas 147.000 anak menderita gizi buruk dan busung lapar.

Mengkonsumsi secara mengada-ada juga terkait dengan efektifitas penyelenggaran negara dan keadilan kebijakan. Penggusuran rumah penduduk atau intitusi pendidikan, seperti kasus mall malioboro, secara khusus didorong oleh konsumerisme yang narsisitik.

Mesin Hasrat  
Apa yang sesungguhnya menggrakan kehidupan ini? Lacan akan menjawab dengan yakin: hasrat. Manusia adalah makhluk imajiner. segala sesuat yang membentuk ego idealnya tau identitasnya selalu dikonstruksi oleh imajinasinya sendiri. Konsumerisme sameta-mata digerakan oleh hasrat menjadi apa yang dihasrati oleh orang lain. sebab itu konsumerisme meledak.  Dengan mengkonsumsi secara mengada-ada oarang merasa memiliki identitas yang diperlukan untuk mendapat pengakuan dari liyan.

Meskipun bentuk-bentuk hasrat sangat kompleks, berdasarkan pandangan Lacan, setidak-tidaknya  ada dua bentuk utama hasrat, yang juga beroperasi dalam masyarakat posmodern. Pertama, hasrat .menjadi. (to  be), yaitu hasrat menjadi obyek cinta —kekaguman, idealisasi, pemujaan, penghargaan—  .sang  lain.  (the  others).(7) Orang merasa  menjadi  obyek  cinta  sang  lain  (penonton, fans, rakyat), oleh sebab itu ia akan bertingkah-laku dan menciptakan citra (image) dirinya sedemikian rupa agar ia tetap dicintai —narcissistic  desire. Inilah, misalnya,  orang-orang yang memperlihatkan eksistensi  dirinya  lewat  tanda-tanda  dan gaya hidup: mobil mewah, rumah megah, fashion eksklusif, parfum mahal, dsb. 

Kedua,  .hasrat  memiliki.  (to have),  yaitu    hasrat  memiliki  sang  lain  (materi, benda, orang, kekuasaan, posisi) sebagai sebuah cara untuk memenuhi kepuasan diri —anaclictic desire.  .Hasrat memiliki. merupakan fondasi masyarakat posmodern, yang dilembagakan  lewat  sistem  kapitalisme  global. Di dalamnya, orang dikonstruksi secara sosial untuk .mengingingkan. iringan-iringan benda yang sebetulnya secara hakiki tidak mereka butuhkan. Di sini kapitalisme global merubah  .keinginan.  (want)  menjadi .kebutuhan. (need).  Artinya,  kebutuhan tersebut .diciptakan.. Kapitalisme tidak hanya memproduksi barang-barang, tapi juga .memproduksi kebutuhan. dan dorongan .hasrat. di baliknya, untuk keberlanjutan produksi —inilah wacana libidonomics.

Idul Fitri dan Kerinduan Eksistensi Oleh Amien Thohari

Yang selalu terjadi menjelang akhir ramadhan; harga cabe naik, barang-barang kebutuhan pokok merangkak, pasar hiruk pikuk, orang-orang berjubel di pusat-pusat pertokoan, terminal penuh, bandara antri, stasiun sesak, lalu-lintas padat, jalur Pantura macet sekian kilometer, dan seterusnya. Eforia!.

 

Barangkali Indonesia adalah satu-satunya negara yang punya tradisi mudik paling ramai. Hari raya di negara-negara lain dirayakan dengan cara yang tidak sesibuk kita. Lebaran mungkin dimaknai sebagai gong terakhir dari parade panjang ibadah puasa. Seharusnya seorang mukmin sedih atau tidak terlalu merasa gembira di hari raya. Sebab hari itu hakikatnya adalah perpisahan. Bukankah di awal ramadhan bahkan mungkin jauh sebelum itu kita sering memanjatkan do’a yang diajarkan Rasulullah ;” wabalighna ramadhana” Dan itu berarti ramadhan merupakan inti pembuktian ketundukan hamba dan labirin untuk masuk ke dalam samudra keluasan rahmat Tuhan.  Di dalamnya ada misteri yang tak pernah dapat terkuak, sebab puasa tak dapat diukur oleh manusia, ia murni hak prerogatif  Tuhan.

 

Tetapi selalu ada eforia di hari raya seolah ungkapan keterlepasan dari derita yang sebulan lamanya. Bahkan hasrat yang dikekang selama sebulan itu keluar dalam bentuk konsumerisme tanpa batas. Dan tanpa sadar kita melakukanya, ramai-ramai. Adakah itu ekspresi ke-Fitri-an kita atau praktik kelarutan dalam budaya massa?

 

Kembali kepada fitrah”. Ungkapan itu menyiratkan bahwa ada lapisan-lapisan yang menutupi diri dan mata hati kita. Akhirnya membuat kita tak lagi bisa melihat realitas dengan kejernihan mata batin Ia seperti karat yang melapisi besi tua. Karat itu bermacam-macam, misalnya, menumpuk kekayaan untuk kepentingan pribadi, meledakakn bom, menggusur rakyat miskin,  mengkonsumsi barang yang sesungguhnya tak dibutuhkan, dan sebagainya. Singkatnya, kita kerapkali mengidentifikasikan diri kita dengan sesuatu yang bukan kita. Celakanya, seringkali juga kita menganggap liyan itu adalah ‘diri’ kita. Prestise, status, identitas, jabatan, dan sebagainya adalah liyan yang secara tak sadar membentuk kesadaran dan tak jarang itu dianggap sebagai jati diri yang asli. Karena itu yang kadang kita sebut “aku” sesunguhnya adalah status itu, pretise itu, gengsi itu, jabatan itu, dan popularitas itu.

 

Lepas dari Kerutinan
Hampir setiap orang tenggelam dalam putaran hari yang itu-itu saja. Kita seolah-olah seperti dipaksa oleh sebuah sistem yang akhirnya dirasakan sebagai sesuatu yang biasa dan alami. Tak ada ruang sedikit pun untuk menarik nafas panjang. Bagi kelas workaholic putaranya mungkin demikian; bangun pagi, berangkat kerja, istirahat dan makan siang, kerja lagi sampai sore, pulang kerumah, terjebak macet, sampai dirumah diujung magrib, lelah, tidur, bangun pagi , berangkat kerja lagi,  begitu seterusnya. Rutinitas itu berputar berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun. Semua itu tak bisa ditolak dalam kehidupan yang bertumpu pada ketepatan dan kepastian ala cara kerja sebuah mesin.

 

Ketenggelaman dalam kehidupan banal yang demikian menjadikan kita semakin terkikis dari kedalaman jiwa. Rutinitas yang banal itu membentuk kesadaran semu yang terkadang juga dianggap sebagai identitas diri. Kesadaran yang dibentuk oleh kerutinan pasti akan merepresi keinginan-keinginan terdalam yang biasanya disebut ‘makna’. Karena rasionalitas kehidupan modern yang bertumpu pada cara kerja industri melahirkan pola rutinitas layaknya mesin. Yang tidak sesuai dengan kemauan mesin silahkan menyingkir.

 

Namun di dalam ketenggelaman tersebut sebenarnya ada sesuatu yang menarik-narik  untuk kembali pada diri yang otentik. Rasa bosan yang kadang kita rasakan dan stress yang kerap hingap merupakan bentuk-bentuk gejala dari panggilan jiwa ini. Tetapi tak banyak orang yang betul-betul mendengarkanya dan memenuhi panggilanya. Bahkan tidak jarang keinginan untuk kembali pada yang otentik itu justru dimanipulasi lagi dengan mengumbar hasrat baru.

 

Sesuatu itu, bagi Jeques Lacan seoarng Psikoanalis-Struktural, adalah keinginan (the real) yang terus menerus direpresi oleh prinsip-prisip realitas yang banal. Keinginan yang direpresi itu tidak hilang, sebaliknya ia terus berada dalam dunia unconsious dan selalu mencari celah untuk tampil keluar. Banalitas hidup penuh dengan liyan-liyan yang hakekatnya bukan diri yang otentik tetapi secara tak sadar dipandang sebagai sesuatu yang natural. Hasrat konsumerisme, misalnya, berangkat dari kelarutan dalam hasrat liyan sebagai cara menambal rasa identitas yang berlubang akibat ketenggelaman diri pada rutinitas banal itu. Konsumerisme terjadi bukan barang yang dibeli benar-benar dibutuhkan, tetapi terutama karena barang itu memberi rasa identitas terhadap pemiliknya. Kembali pada fitrah hakekatnya adalah kembali pada diri yang otentik dengan melepaskan balutan-balutan hasrat yang menipu.               

 

Rindu “Kampung”
Dalam konteks Idul Fitri, kampung, bukan satuan teritori gografis atau wilayah administratif tertentu. Ia mengandaikan wilayah imajiner yang menyimpan moment-moment penting dalam hidup seseorang. Keakraban, kekeluargaan, kebersamaan, keramah-tamahan, jalinan  kesadaran dan ruang-waktu tertentu yang diikat oleh peristiwa khusus. Kampung adalah rahim yang mangasuh, membimbing, dan menyulam diri individu pada awal kehadiranya di dunia. Kampung hidup di alam batin.

 

Suasana kampung mengandaikan sebuah penyatuan eksistensial bagi seorang individu. Alam kampung akan terus hidup seiring perjalanan kehidupan seseorang. Tetapi “suasana” kampung tidak sewaktu-waktu dapat diulang kembali. Moment penyatuan tersebut hilang ketika seseorang pergi meninggalkan kampungnya. Namun keinginan untuk merasakan kembali suasana penyatuan itu tidak lenyap meski seseorang pergi ke negeri lain. Fantasi akan kehidupan kampung yang mengasuh dan membimbing akan selalu hadir dan membangkitkan keinginan untuk “pulang”. Hasrat untuk kembali inilah yang menggerakan orang untuk mudik di hari lebaran.

 

 ‘Mudik’ memperlihatkan migrasi manusia dalam jumlah besar dari satu tempat ke tempat lain. Ia juga berarti proses perjalanan untuk kembali menemukan rasa penyatuan yang hilang itu. Kehidupan kota yang bertumpu pada modernitas bagitu digdaya menggerus kesadaran penyatuan dengan segala bentuk hasrat yang ditawarkanya. Seseorang yang meninggalkan kampung lantas pergi ke kota, misalnya, ia akan dipaksa untuk menghasrati banyak hal yang pada hekekatnya bukan ‘diri’nya. Menjadi orang metropolis berati merepresi ke-kampung-an itu. Hingga sampai pada tingkat tertentu tak jarang orang lalu menjadi asing dengan ‘diri’nya sendiri. Karena hasrat liyan itu dipaksa didaku sebagi dirinya. Namun kesadaran kampung-halaman tidak hilang. Ia terus hidup dan membuat sesorang rindu akan penyatuan dengannya.

 

Jika secara sosiologis mudik berarti proses perjalanan menemukan penyatuan dengan kampung-halaman, maka secara religius puasa adalah proses perjalanan menemukan penyatuan eksistensial.     

 

Rindu “Penyatuan”        
Secara metaforis kampung juga berarti ekspresi kerinduan setiap manusia untuk kembali kepada “diri” yang azali. Biasanya hal ini diungkapkan ”Kembali kepada yang fitri” atau”seperti bayi yang baru dilahirkan”. “Diri” disini bukan sebuah entitas yang berdiri otonom dan lepas dari yang lain. Ia juga bukan “ide” tentang diri itu sendiri. Karena baik angapan tentang ‘diri’ yang otonom atau ‘ide’ tentang diri itu sendiri pada hakekatnya adalah liyan. Lacan menyebutnya Yang Nyata atau al-Hakikat. Menurutnya manusia selalu mengalami kerinduan untuk  kembali kepada Yang Real itu. Akan tetapi yang real tidak dapat diraih kembali. Inilah yang akhirnya melahirkan hasrat yang tak pernah habis terpuaskan.

 

Fitrah atau yang real  tidak mengenal distingsi-distingsi. Distingsi muncul ketika, menurut Lacan, manusia pada usia bayi memasuki tahap yang disebutnya Fase Cermin. Bayangan maya yang dilihatnya di cermin diaku sebagai dirinya. Liyan inilah yang kemudian ditempel dan didaku sebagi identitas. Namun peran liyan terus berlanjut selama hidupnya. Ia dapat mengambil berbagai macam bentuk; popularitas, status, kekayaan, nama besar, jabatan dan sebagai. Sebab itulah jauh-jauh hari ungkapan luhur mengingatkan “hubbu ad-dunya ra’su kulli khatiatin” (kecintaan pada duniawi akan menyeret pada kejahatan). Akibatnya motiv dibalik setiap tindakan tidak keluar dari kedalaman jiwa dan hati nurani melainkan distrukturasi oleh tradisi yang menghegemoni.

 

Puasa sebenarnya adalah upaya membersihkan diri dari liyan-liyan yang memalingkan kita  dari suara hati. Sehingga segala ucapan dan perbuatan sering bertentangan dengan rasa keadilan, nilai kejujuran, dan prinsip kemanusiaan universal. Idul Fitri berarti kembali kepada rasa penyatuan eksistensial dan kembali mendengarkan suara hati nurani.    

Ternyata, Semua Ini imajinatif Belaka…

Pembuka
Mengapa aku menjadi aku seperti saat ini? Dalam cakupan yang lebih luas mengapa kita (komunitas akademik, ummat Islam, komunitas sebuah organisasi, dan sebagai sebuah bangsa?. Pertanyaan tersebut menggering kita melihat kembali sejarah pembntukan diri kita masing-masing. Di dalamnya, tentu saja membayangkan kembali saat-saat ketika diri kita tiba-tiba menjadai diri utuh, otonom, terpisah dari yang lain, dan merasakan perbedaan antara aku dan bukan aku. Umumnya, orang hanya sampai mengingat moment ketika  pertama kali merasakan bahwa “aku” ternyata berbeda dengan sesuatu disekelilingku” (benda-benda dan manusia). Sesugguhnya pada fase inilah seoarg manusia mulai memahat tentang siapa dirinya.  Kesadaran sebagai makhluk  yang otonom mengandaikan kehilangan, kesen-diri-an, ketragisan dan selanjutnya kondisi ini menuntut kestabilan. Kestabilan merupakan konsekuensi atas keberadaan dalam kesendirian.

 

Tetapi apakah diri atau ego merupakan konsep yang mantap, stabil, utuh ataukah ia sesungguhnya  berada dalam ketidakpastian, selalu goyah, dan tidak pernah stabil. Pencarian tentang diri manusia sudah dimulai sejak  manusia ada. Tonggak sejarah yang akhirnya memantapkan siapa manusia sebenarnya saat berhadapan dengan segala hal yang bukan manusia tertancap ketika Descrates mengumandangkan bahwa manusia adalah subyek yang berfikir. Ketidaktetapan diakhiri dengan menegaskan bahwa “aku” adalah sesuatu yag mantap dan utuh. Namun darimana asalnya kok tiba-tiba kita menyebut diri sebagai sesuatu yang utuh. Sekaligus menandai berdirinya Humanisme. Premis dasar humanisme, sebagaimana kita kenal, mengandaikan adanya konstruksi diri yang diangap stabil, seperti memiliki kehendak bebas dan berada diluar determinan-determinan eksternal.

 

Psikoanalisis Freud menjawab kegelisahan ini. Menurut Freud, diri manusia tersusun dari tiga dasar diri yaitu Id, Ego, dan Superego. Diakui, ada sesuatu dalam diri manusia yang mendorong, mengendalikan, dan mengajak pada perilaku-perilaku tertentu, seperti cinta dan benci. Energi psikis itu seolah sudah terberi begitu saja sejak dari awal. Freud menyebutnya naluri bawaan, ketaksadaran yang chaos, liar, tak terkedali.  Itulah, Id. Ejawantah Id dapat kita lihat pada perilaku anak-anak. Pada usia dini anak-anak bertindak mengikuti dorongan naluriah dari dalam dirinya. Ia tidak memiliki pijakan relitas atau sesuatu pun di luar dirinya. Mereka bertindak sesuka hati. Tidak ada pertimbangan-pertimbangan pada ketentuan-ketentuan aturan dunia luar. Gelas yang pecah tidak ada bedanya dengan Simphony 16 karya Beethoven.

 

Ego datang buat mendisiplinkan Id. Prinsip-prinsip kesenangan, dorongan-dorongan naluri diatur, diseleksi, dikontrol, dengan kata lain direpresi. Disini kesadaran mulai menjalankan tugasnya. Hukum-hukum realitas dipertimbangkan dengan seksama. Konsep kesadaran dalam pengertian Freudian selalu meneguhkan prinsip determinasi dunia luar. Karena itu realitas menjadi basis atas pembentukan Ego yang sadar. Fase ini lah yang disebut Freud tahap sadar. Adalah tugas ego mempertahankan kepribadian, menjamin penyesuaian dengan lingkungan sekitar, dan memenej konflik antara keinginan naluriah dan keinginan realitas. Akhirnya, ego menjamin kesatuan kepribadian.

 

Sedangkan superego berfungsi menginternalisasikan perintah dan larangan dari dunia luar, diolah, dan kemudian dieksternalisaikan. Merubah aturan-aturan yang awalnya asing menjadi seolah berasal dari subyek merupakan tugas utama Superego. 

 

Adagium Freud berbunyi Wo Es war, Soll Ich Werden (dimana ada Id disitu berpatroli Ego). Freud ingin menjawab kenyatan, melalui investigasinya, anak yang suka membangkang pada akhirnya justru menjadi orang dewasa yang beradab dan produktif. Adagium itu ingin menegaskan bahwa ketaksadaran ditentukan, dikontrol, distabilkan oleh kesadaran. Sebagai implikasinya Freud sesungguhnya meneguhkan subyek Cartesian. Ini tidak dapat mungkin tanpa menggeser godaan hasrat yang senantiasa subversive.

 

Rasionalitas, moral, dan kebenaran ilmiah merupakan prinsip-prinsip dasar yang menopang konsep kepribadian dan humanisme barat. Demi rasionalitas, kebenaran ilmiah dan moral sesuatu yang disebut Aristoteles komponen rendah jiwa, oleh Plato dikatakan sebagai gangguan badani yang memalingkan wajah dari kebenaran, dan dianggap oleh pemuja obyektivitas dan positivisme sebagai subyektivitas, harus dilempar jauah-jauh.

 

Dasar Yang Bergeser
Kepribadian modernitas mengandaikan sebuah pijakan yang teguh, kukuh, dan tak tergoyahkan. Tak pelak itu diperlukan sebagai landasan pacu membangun proyek modernitas. Tanpanya kedigdayaan modernitas akan runtuh. Namun dalam perkembanganya peradaban yang dibangun dengan menyingkirkan segala sesuatu yang menghalanginya melahirkan patologi dehumanisasi. “Tidak ada lagi dasar” teriak Nietzsche. Ia mencurigai ada sesuatu dibalik rasionalitas yang di puja:” hasrat untuk berkuasa”. Nietzsche membangunkan kemabali hasrat yang selama ini dikubur dalam-dalam oleh subyek Cartesian.

 

Gelombang teriakan Nietzsche tidak saja menerjang dasar pijakan ilmu-ilmu modern. Ia pun akhirnya merasuk dalam disiplin psikologi. Lacan yang dikenal sebagai anomali psikoanalisis menggoreskan tesis terbalik atas Freud. “Ketaksadaran lah yang membentuk kesadaran”. Alih-alih menganggap ego sebagai sesuatu yang tak tergoyahkan, Lacan mengatakan bahwa ego atau”Aku” (sesuatu yang dirujuk sebagai ‘diri) hanyalah ilusi yang adalah produk dari hasrat itu sendiri. Hasrat merupakn kodrat manusia yang selalu berada dalam kekurangan. Tetapi moment ketragisan yaitu saat kehilangan sesuatu“yang dicintai” (lepasnya bayi dari sang ibu) muncul maka sebentuk ego mesti dibentuk. Ego terbentuk melalui hasrat untuk memiliki identitas. Jadi ego adalah anyaman yang dirajut oleh hasrat untuki memiliki identitas. Tetapi sekali lagi lacan mengatakan ego yang dirajut tersebut pada dasarnya adalah sesuatu yang imajiner, kesalahpengenalan yang tak mungkin ditawar.  

 

Tidak sampai disitu saja, Lacan menginjeksi pada ketaksadaran sebuah tatanan simbolik dari tradisi linguistic Saussurian. Lacan mengatakan bahwa ketaksadaran sepenuhnya adalah sadar akan bahasa, dan secara khusus ia terdiri dari struktur bahasa. Bertolak dari hasrat yang senantisa bergolak, Lacan memodifikasi Saussure. Saussure mendiskusikan hubungan antara penanda dan petanda yang membentuk tanda. Struktur tanda adalah relasi negate antara tanda-tanda. Sebuah tanda menjadi tanda dalam dirinya sendiri karena ia semata-mata bukan tanda yang lain. Dengan ini Suassure sesungguhnya menegaskan bahwa petanda selalu menggentayangi penanda. Tanpa adanya hubungan keeratan ini maka makna tidak dapat muncul.

 

Bagi Lacan, tidak ada petanda yang pada akhirnya dirujuk penanda.  Semua bergelincir, bergeser, dan bersirkulasi. Suatau penanda hanya menggring kepada penanda lainya dan tidak pernah kepada petanda. Seperti halnya kata dalam sebuah kamus yang menggring kepada kata-kata lainya dan tidak pernah kepada sesuatu yang direpresentasikan oleh kata tersebut.

 

Namun Lacan masih menyimpan ambiguitas. Disatu sisi ia mengatakan bahwa tidak ada sebuah dasar atau dalam istilah Derrida tidak ada pusat karena keterpisahan dengan”yang dicintai” mengandaikan kehilangan akan rasa penyatuan dan setelah itu semua hanya ilusi imajener. Di sisi lain ia masih membayangkan sebuah pusat dari tatanan simbolik yang disebutnya dengan phallus. Berbeda dengan penahulunya Freud dan Suassure, masing-masing mengandaikan adanya pusat dan jaminan akan kestabilan tertentu. Freud beripjak pada Ego. Sementara Suassure meneguhkan hubungan antara penanda dan petanda yang menjamin adanya makna. Lacan sendiri mengandaikan adanya pusat. Pertama ia berupa dimensi Yang Real, seuatu yang hilang setelah moment keterlepasan yang menimbulkan hasarat untuk menjadi. Dan kedua, Phallus, pusat tatanan simbolik. Keduanya dihasrati oleh individu tetapi tidak akan pernah sampai.

 

Tiga Tahap Perkembangan
Dalam menjelaskan teorinya sekaligus mengaitkannya dengan, meminjam Althusser, interpelasi subyek oleh tatanan simbiolik. Sebab ketika sesorang mulai mengakuisisi system penanda, hasrat akan identitasnya dikendalikan oleh hukum yang berlaku disana. Lacan membicarakan fase-fase perkembangan individu hingga ia terjerat oleh struktur simbolik.

 

Sebagaimana Freud menjelaskan bahwa fase perkembangan individu dibagi dalam tiga tahap yaitu oral, anal, dan phallic. Fase oral menunjukan bahwa seorang anak yang mengalami kenikmatan pada fungsi-fungsi oralnya. Payudara menjadai salah satu obyek nikmat pada fungsi-fungsi ini. Hingga pada akhirnya aktivitas fungsi anak membentuk hasrat secara diam-diam. Freud menyebutnya hasrat oedhiphal yaitu dimana seorang anak ‘mencintai’ ibunya. Ketika memasuki fase anal, seorang individu merasai kenikmatan pada fungsi-fungsi anusnya. Sedangkan phallic menunjukan keinginan kuat atau hasrat untuk menggantikan posisi dan peran ‘sang ayah’.

 

Lacan menandai tiga tahap perkembangan individu yaitu need (kebutuhan), demand (permintaan), desire (hasrat). Ketiga tahap tersebut saling bertumpang tindih. Artinya antara satu tahap dengan tahap yang lain tidak dipisah oleh suatu batas yang menandai perubahanya. Pada tahap permintaan seseorang masih menyimpan kebutuhan-kebutuhan akan obyek-oyek yang dapat memenuhinya. Namun berbeda dengan tahap sebelumnya, pada tahap permintaan yang dinginkan bukan obyek pemuas kebutuhan melainkan liyan yang diposisikan sebagai sarana pembentuk identitas.

 

Pada tahap kebutuhan bayi berada dalam momen Yang Real. Ia adalah sebentuk penyatuan utuh dengan dunia diluar dirinya. Bayi di tahap ini tidak dapat membedakan antara dirinya dengan yang lain. Bahkan tidak memiliki ide pemisahan dengan organ-organ tubuhnya sendiri. Karena pada fase ini belum muncul ide tentang ‘keliyanan’. Keterpisahan sebagai pengalaman tragis yang menyakitkan melahirkan perasaan kehilangan yang menuntut penggantian. Bayi mulai memiliki ide tentang keliyanan. Lacan mengatakan fase permintaan adalah permintaa akan identitas. Kesadaran sebagai sebuah oknum utuh terbentuk saat bayi melihat dirinya dalam pantulan cermin. Citra cermin dikenali sebagi dirinya yang otonom sekaligus membentuk identitas. Momen kehilangan dan kebutuhan akan identitas memasukanya pada tatanan simbolik. Lacan mengatakan bahwa tatanan simbolik atau bahasa selalu menyimpan momen kehilangan atau ketiadaan, yang dibutuhkan hanyalah kata-kata ketika obyek yang diinginkan menghilang. Jika dunia penuh seluruh tanpa ketiadaan, sebuah budaya tak lagi memerlukan bahasa, maka orang-orang akan membawa semua obyek yang dibutuhkan untuk berkata-kata di punggung mereka.

 

Hasrat akan identitas membuka pintu bagi mekanisme ideologis untuk bekerja. Disinilah Ideological State Apparatus menyingkirkan setiap upaya resistensi. Individu kemudian menelan mentah-mentah setiap citra identitas, peran dan makna social yang ditanamkan ISA. Sebab dari semua ini sederhana bahwa kita memerlukan perorganisasian dunia yang mapan sehingga melahirkan rasa nyaman. Yang tak terjelaskan silahkan keluar. Selanjutnya ketiga kebutuhan itu berkaitan erat dengan tiga gugus utama lainya yaitu Yang Real, Imajiner, dan Simbolik.

 

Yang Real
Menjelaskan konsep yang real, Lacan tidak dapat tidak musti memulainya dengan mengilustrasiikan kehidupan manusiasia paling awal didunia yaitu pada saat masih bayi. Sebagaimana Freud, Lacan mengatakan bahwa bayi tidak mengenal konsep tentang diri dan liyan. Dia tidak bisa membedakan antara dirinya dengan benda-benda dan apapun diluar dirinya  bahkan ibu atau angota tubuhnya sendiri. Ia  didorong oleh kebutuhan akan makan dan rasa nyaman. Ia memperoleh payudara ketika butuh makan dan mendapat pelukan untuk memenuhi kehangatan dan rasa nyaman yang dibutuhkan.

 

Ini adalah keadaan alami yang hrus dipecahkan agar ia bias masuk kedalam anggota sebuah kebudayan. Dan kondisi ini, bagi Lacan, adalah gambaran situasi di dunia real. Dunia real dipahami sebagai sebuah kondisi dimana tidak ada kehilangan dan ketiadaan, tidak ada kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi. Karena itu didalamnya tidak ada bahasa. Yang Real adalah suatu alam yang tak pernah dapat digambarkan karena sejak manusia dilempar kedunia dan merasakan ide tentang “diri” dan “liyan” kondisi ini tidak pernah dapat direngkhnya kembali.

 

 

Imajiner
Dunia real tidak berlangsung lama. Praktis keterpisahan dengan ibu memunculkan rasa kehilangan dan ketiadaan. Dan itu adalah pengalaman tragis yang menyakitkan. Momen kehilangan ini merupakan titik awal dimana bayi memiliki kesadaran ‘diri’ dan ‘liyan’, antara dia sebagai oknum utuh yang berdiri sendiri dan liyan yang juga adalah oknum lain yang mandiri. Kehilangan melahirkan kecemasan. Situasi ini menodorong bayi meminta kembali apa yang dulu pernah didapatkanya. Tetapi ia tidak akan dapat memprolehnya kembali. Inilah yang memaksanya  melihat dirinya sebagai satu individu lain yang utuh dan berbeda.

 

Lacan menjelaskan tentang fase cermin yang penting dimana bayi melihat pada pantulan cermin bahwa dia adalah kesatuan tersendiri yang berbeda sekaligus sama dengan orang lain. Citra diri dalam cermin yang dilihatnya, ia akui sebagai identitas dirinya yang disebut “Aku”. Bayi tidak dapat menyebut diri yang terpantul di cermin sebagai”Aku” tanpa keterlibatan orang lai. Artinya bayi tidak tahu bahwa citra cermin itu disebut ”Aku”. Orang lain berperan memberitahukan kepadanya bahwa itu adalah “Aku”nya. Saat bayi menyebut citraan itu sebagai” Aku” saat itulah ia  masuk ke dalam struktur tatanan simbolik yang memliki aturan-aturan yang harus dipatuhinya seumur hidup.

 

Tetapi citra dalam cermin yang disebutnya “Aku” bukanlah dirinya yang sesungguhnya melainkan struktur imajiner yang mau tidak mau diakuinya sebagi identitas dirinya. Alasanya sangat sederhana, karena individu membutuhkan organisasi diri yang mapan sebagai modal menempuh kehidupan dan membedakan dirinya dengan orang lain. Lacan menyebutkan bahwa citra dicermin itu adalah liyan. Yang juga termasuk liyan, menurut Lacan, adalah ide tentang diri kita atau, dalam kasus bayi, ide tentang diri bayi itu sendiri. Lacan melanjutkan, dengan demikian maka bayi mengenal dirinya melalui liyan yang adalah citra yang muncul pada cermin. Factor penting yang mendorong bayi mau tidak mau mengakui citraan imajiner itu sebagi dirinya adalah hasarat untk memiliki identitas. Itulah sebanya Lacan tidak melihat identitas sebagai”Identity” yaitu sesutau yang mapan, utuh, dan tidak retak. Tetapi ia menyebutnya “I-dentity”, aku dan identitas. Inilah yang disebut dengan tahap permintaan akan identitas yang iamjiner.

 

Symbolic   
Hasrat tidak dapat dipenuhi , ungkap Lacan, hasrat tidak hanya terbatas pada hasrat pada obyek-obyek yang dapat memenuhi kebutuhanya atau hasrat akan kasih sayang dan memperoleh pengakuan dari orang lain, tetapi hasrat juga menginginkan untuk menjadi pusat dari tatanan simbolik atau pusat dari sistem yaitu Phalus. Kehilangan dari yang real atau ibu yang bersifat maternal mendorong individu berhasrat mencapai pusat pengatur tatanan simbolik. Pusat itu adalah phallus yang menstrukturasi individu dalam jeratan aturan simbol-simbol bahasa. Menjadi nom-du-pere adalaah obsesi setiap individu.

 

Ketundukan pada aturan-aturan bahasa itu-Hukum Sang Ayah- diperlukan untuk memasuki tatanan symbolic. Untuk menjadi subyek yang berbicara, anda harus tunduk dan mematuhi hukum dan aturan bahasa. Sebab ini adalah modal untuk menjadi anggota suatu peradaban. Tidak dapat dibayangkan bagaimana nasib seseorang ketika ia tidak dapat tunduk pada aturan bahasa atau Hukum-Sang-Ayah, ia mungkin akan terkucil dari dunia ini. .

 

Pengenalan bayi akan dirinya pada perkembangan selanjutnya semakin diperluas. Implikasi individual dari identifikasi diri melebar kearah identivikasi sosial. Pertama-tama ia mengenal diri-ku, kemudian secara sosial seturut perkembangan individu ia mengidentikasi lingkungan sekitarnya. Ia mulai mengenal kelompoku, sukuku, etnisku, budaya-ku, agamaku, negaraku, bangsaku. Kebutuhan akan rasa aman dan nyaman social dipenuhi oleh identifikasi dirinya dengan struktur social yang lebih luas.  Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor kesamaan antara dirinya dan lingkungan sosialnya. Masuknya individu kedalam sebuah kelompok pertama-tama diinterpelasi oleh hukum dan aturan bahasa yang harus dipatuhinya untuk memenuhi hasrat menjadi pusat tatanan symbolic.

 

Hasrat
Apa yang menggerakkan kehidupan manusia?, Lacan akan menjawab dengan yakin; hasrat. Setelah ia lepas dari, dalam terminology Shadra, kesatuan eksistensial di dunia real yang tidak mengenal distingsi-distingsi, kepribadian manusia selamanya berlubang. Rasa kekurang dan ketiadaan senantiasa menggentayangi jejak kehidupan. Karena yang real atau kesatuan eksistensial itu tak mungkin lagi digapai. Perasaan yang mendekam di alam ketaksadaran ini melahirkan hasrat yang tak pernah habis terpuaskan. Bahkan bahasa yang dianggap mewakili realitas dan konstruksi kesadaran akan realitas social hanya ilusi buatan hasrat belaka. Distingsi-distingsi untuk menandai benda-benda tak lain hanya simbolisasi hasrat imajinatif.

 

Yang pertama-tama harus dipahami ketika memahami hasrat adalah bahwa bagi Lacan hasrat terutama adalah hasrat terhadap Liyan. Liyan senantiasa menopang kekurang yang tiada akhir. ‘liyan’ muncul pertama kali di fase imajiner. Ide tentang ‘diri, wujud batin yang ditandai sebagai’Aku’ adalah ‘liyan’. ‘liyan’ adalah bukan ‘aku’ tetapi sekaligus (diaku sebagai)‘aku’. ‘liyan’ menyemen, memplester, menutupi lubang yang ditinggalkan oleh keterpisahan dengan Yang Real. Sedangkan Liyan (dengan L besar) adalah phallus atau pusat tatanan simbolik. Ia merupakan tempat dimana semua orang ingin menuju. Manusia, bagi Lacan, berada diantara perasaan kehilangan dan ke-taksampai-an. Dari situlah hasrat muncul.

 

Ada tiga hal yang harus diingat ketika memahami apa yang dimaksud sebagai hasrat oleh Lacan. Pertama, hasrat dapat berbentuk hasrat untuk menjadi atau hasrat untuk memiliki. Hasrat menjadi memanifestasikan dirinya dalam bentuk cinta dan idetifikasi, sedangkan hasrat untuk memiliki mengambil bentuk pada cara mendapatkan kesenangan yang bertentangan dengan diri dan orang lain. Kedua,karena hasrat terutama adalah hasrat terhdap liyan, secara khusus liyan bisa menjadi subyek sekaligus obyek hasrat. Menghasrati sekaligus dihasrati. Ketiga, ‘Liyan’ mengambil bentuk dalam citra orang lain pada tatanan imajiner, kode yang membentuk tatanan simbolik, atau subtansi khusus pada Yang Real.   

 

 

Lacan membagi hasrat dalam empat bentuk:
1. Narsistik pasiv. Seseorang berhasrat menjadi obyek cinta (Liyan) orang/sesuatu lain  (hasrat dikagumi, idealisasi orang lain, atau rekognisi orang lain)
2. Narsistik aktiv. Seseorang berhasrat menjadi orang lain. Identifikasi diri pada orang lain (Liyan) adalah cinta atau devosi pada sesuatu yang lain.
3. Anaklitik aktiv. Hasrat memiliki orang/sesuatu (Liyan) sebagai cara mendapat kepuasan
4. Anaklitik pasiv. Hasrat ingin dimiliki Liyan (orang lain atau sesuatu yang lain) sebagai sumber kepuasan liyan.

 

Hasrat Untuk “menjadi
Hasrat untuk menjadi terutama bekerja dalam bentuk identifikasi. Identifikasi bekerja pada tiga tataran; Simbolik, Imajiner, dan Yang Real. Tatanan Simbolik berada dalam dan melalui system penanda atau Master Signifier. Manifestasi tatanan Imajiner menampak pada bentuk-bentuk citra-an. Sedangkan modus Yang Real memperoleh pengaruhnya pada fantasi.

 

Identifikasi adalah suatu cara dimana subyek diinterpelasi dan subyektifitas mereka diubah oleh diskursus. Modus kerja identifikasi tampak misalnya ketika orang-orang membaca kisah tertentu atau menonton sebuah film. Peran utama yang dimainkan seorang tokoh dalam kisah, film, atau relitas nyata adalah menginterpelasi subyek  agar mengidentifikasi diri mereka dengan tokoh tersebut. Saat subyek terhubung dengan obyek rasa kagum mereka maka ia harus merepresi semua hasrat yang tidak sejalan dengan ciri, keinginan-keinginan, karakter, dan  segala kualitas yang dikandung obyek tersebut. Identifikasi selalu memberi motivasi pada keinginan untuk menjadi (want-of-being). Dari paparan ini seolah-olah tampak bahwa hasrat merupakan daya dorong munculnya identifikasi. Dengan kata lain identifikasi adalah akibat dari hasrat.

 

Akan tetapi Lacan menjelaskan bahwa identifikasi juga dapat menjadi sebab dari hasrat. Jadi, hasrat untuk menjadi obyek rasa kagum dipicu juga oleh kerja-kerja modus identifikasi.
  
“Aku” adalah Penanda Utama
Hal ini berkaitan erat dengan daya interpelasi dan strukturasi Master Signifier tatanan simbolik. Lacan menyebut penanda utama ini sebagai penanda pembawa identitas. Identifikasi subyek pada otoritas penanda utama membangkitkan hasrat menjadi obyek “yang diinginkan” penanda utama tersebut. Tuhan, Alam, Masyarakat, Laki-laki, Perempuan, Mahasiswa, Guru, Intelektual, Kiyai, Santri, Buruh, Majikan, Kafir, Muslim, dan sebagainya merupakan beberapa diantara penanda utama.

 

Identifikasi subyek pada penanda-penanda utama ini mendorongnya untuk menjadi apa yang diinginkan liyan simbolik tersebut. Seorang muslim, misalnya, akan berupaya melepaskan semua hal yang bakal membuatnya menjadi kafir. Ia akan bereaksi ketika ada orang yang mencoba merusak atau menghilangkan penanda itu darinya. Karena penanda utama memainkan peran mensturkturasi subyek sehingga melahirkan rasa aman eksistensial. Rasa identitas yang dibentuk penanda simbolik membuatnya dapat mengenal dirinya sendiri dan dikenal orang lain. Hasrat untuk diinginkan oleh liyan simbolik pada giliranya menuntut hasrat untuk mengidentikasikan diri dengan liyan.  
 
Relasi penandaan yang bekerja pada otoritas tatanan simbolik penanda utama adalah hubungan Paradigmatik. Hubungan paradigmatik adalah hubungan eksternal suatu tanda dengan tanda yang lain. Tanda yang bisa berhubungan secara paradigmatik adalah tanda-tanda satu kelas atau satu sistem. Kata “perempuan” mempunyai hubungan paradigmatik dengan misalnya “cantik”, “lemah-lembut”, dan”feminin”. Demikian pula kata “Guru” mempunyai hubungan paradigmatik dengan “murid”, “kelas”, dan “buku pelajaran”. Kata-kata ini masuk dalam unsur-unsur perlengkapan sekolah. Interpelasi subyek oleh penanda utama membangkitkan hasrat mengidentifikasi diri dengan tanda satu kelas atau satu sistem dalam struktur paradigmatik penanda utama.

 

Hubungan paradigmatik selanjutnya membawa pada asosiasi mental yang disebut dengan hubungan metaforik. Hubungan metaforik muncul karena dengan adanya kekuatan represi suatu penanda diganti dengan penanda baru. Penanda pertama akan berubah menjadi petanda sejauh penanda pengganti menempati kedudukan penanda terganti dan merepresentasikanya. Imajinasi asosiatif yang muncul dari pergantian posisi penanda mendorong subyek menuju posisi dan mengidentifikas ciri, karakter, status, dan imaji yang terhubung dengan satu atau lebih penanda utama pengganti yang mengonstitusi ego idealnya. Metafor bekerja atas dasar hubungan paradigmatik dan menggunakan tanda tingkat pertama yang sudah mapan atau yang dianggap menghadirkan nilai. Puisi atau iklan seringkali memanfaatkan relasi penandaan ini.

 

Tetapi relasi pemaknaan dalam kedua model diatas (paradigmatik/metaphor) tentu saja tidak muncul secara tiba-tiba. Dengan kata lain tidak ada hubungan signifikansi antar penanda tanpa adanya daya penggerak yang berasal dari alam tak sadar. Menurut Lacan hubungan metaforik muncul dan menjadi lebih kuat ketika terkait dengan hubungan signifier yang masih berada dalam status unconsious. Struktur tak sadar yang sesungguhnya mempengaruhi kesadaran berbahasa disebut Lacan sebagai condensation. Kondensasi merupakan istilah yang digunakan Freud untuk menjelaskan kondisi psikologis tertentu. Tetapi konsep ini bagi Lacan adalah pemampatan atau penumpukan bahasa di alam tak sadar yang kelak akan memunculkan hubungan pemaknaan pada level methapor. Makna yang dihadirkan oleh methaphor tidak dicari dalam relasi pergantian tanda oleh tanda lain. Artinya, penanda pengganti tidak dapat menghadirkan makna dari dalam dirinya sendiri. Jika Sausure mengatakan bahwa makna muncul karena adanya hubungan antara penanda dan petanda, bagi Lacan  makna tidak dapat dicari dari relasi semacam ini. Kondensasi di alam tak sadarlah yang akhirnya menghadirkan signifikansi baik pada level paradigmatik maupun mataphor.                

 

 

“Aku” dan Citra-an
Teknik desain interior kerap menggunakan efek-efek tertentu untuk melekatkan perasaan, membentuk kesan dan menciptakan suasana yang nyaman, eksklusif, etnik, continental, dan sebagainya. Para desainer biasanya sangat lihai memanfaatkan warna-warna atau paduan warna untuk menghasikan efek-efek psikologis yang diinginkan. Efek psikologis yang ditimbulkan oleh warna biru tidak sama dengan kesan yang mucul dari warna hitam. Sadar atau tidak kehidupan dikendalikan oleh citra,kesan, atau pesona yang menyerap subyektifitas kepadanya.

 

Sudah disinggung diatas bahwa tatanan imajiner adalah tahap dimana diri mulai dibentuk. Pembentukan awal ini menjadi dasar yang mengkonstitusi bahwa pada akhirnya semua yang diserap adalah citra. Sejak disinilah citra memperoleh kekuatan cengkramanya. Kaitanya dengan tatanan simbolik, citra menyiapkan fondasi kukuh di atas mana tatanan simbolik bekerja dalam diri seseorang. Citra tidak menjadi citra tanpa strukturasi dunia simbolik didalamnya.

 

Kalau disederhanakan modus bekerjanya citra disini demikian; citra atau pesona yang dikirim oleh pribadi liyan menyerap subyek kearahnya sampai pada tingkat subyek mencintai, mengagumi, pendeknya subyek menghasrati liyan. Citra kemudian disebut dimensi eksternal atau cermin yang menginterpelasi subyek. Selanjutnya, cara ini tidak dapat bekerja secara sempurna tanpa dorongan yang menghasarati untuk dikagumi oleh liyan. Dihasrati-menghasrati atau menghasrati-dihasrati, keduanya bekerja secara simultan dan berbarengan. Namun dorongan itu tidak hanya terhenti pada obyek-subyek. Artinya, hasrat subyek tidak kemudian selesai pada liyan itu sendiri. Pun subyek tak puas hanya ketika ia jadi obyek (kekaguman, idola, cinta, dsb). Dalam hal ini keduanya sama-sama bergerak menuju hasrat masing-masing. Menghasrati atau upaya memenuhinya tak mungkin tanpa melalui hasrat liyan. Itulah sebabnya Lacan mengatakan bahwa hasrat terutama adalah hasrat pada liyan.

 

Ilustrasi ini barangkali bisa membantu mengurai deskripsi diatas; “ aku ingin dihasrati/dimiliki liyan/seseorang/penanda utama/penanda pembawa identitas sebagai cara baginya memenuhi hasrat kepuasanya, sekaligus caraku memperoleh kepuasanku dalam memenuhi hasaratku. Karena “aku” dan “dia” (penanda utama, citra, fantasi) sama-sama berada dalam kekurangan, kehilangan, dan dibayangi ketiadaan yang selalu. Aku tidak menghancurkan dia demi kepuasanku, pun juga dia. Yang aku dan dia rengkuh sebenarnya adalah hasrat itu sendiri (sebagai cara menambal lubang eksistensi-ku/dia). Aku tidak dapat penuh menjadi “diri”-ku tanpa melalui dia dan hasratnya, demikian pula dia tak dapat utuh sebagi “diri”-nya tanpa melalui aku dan hasratku. Aku dan dia masing-masing adalah cermin yang saling memantulkan identitas, mengirim citra, dan menstrukturasi”.

 

Jika relasi penandaan yang bekerja pada level tatanan simbolik adalah relasi paradigmatik, dalam dunia citra pada tatanan imajiner ini hubungan sintagmatik berperan dan melengkapi kesadaran subyek. Hubungan sintagmatik dimengerti sebagai  hubungan tanda dengan tanda-tanda lainya. Dalam hubungan sintagmatik orang diajak untuk mengimajinasi ke depan atau memprediksi apa yang akan terjadi kemudian. Kesadaran ini meliputi kesadaran logis, kausalitas atau sebab akibat. Contoh mudah untuk ini adalah apa yang biasa kita lihat dalam film. Potongan-potongan gambar yang dikenal dengan Montage disusun dari satuan-satuan shot. Pemirsa terbawa untuk menebak, memprediksi apa yang akan terjadi kemudian dengan mempertimbangkan hubungan logis antara satuan gambar sebelumnya.
Kesadaran sintagmatik bertujuan untuk menciptakan stuktur dengan jalan mengkombinasikan unsur yang ada. Oleh karena itu identifikasi individu pada liyan tidak cukup hanya melalui hubungan penandaan yang bersifat paradigmatik saja melainkan harus disertai juga oleh hubungan sitagmatik. Sehingga, identifikasi simbolik melalui penanda utama berjalan seiring dan bekerja bersama dengan identifikasi imajiner melalui citra. Mengasosiasikan (pardigmatik) sekaligus mengkombinasikan (sintagmatik).
Asosiasi yang mucul dari penanda utama “laki-laki” (kuat, jantan, maskulin, macho) akan terasa janggal dan tertahan ketika tidak meyertakan kombinasi yang sempurna. Misalnya, dalam kalimat “Jari-jari lentik lelaki itu bergerak lemah gemulai”.

 

Kalau pada relasi paradigamatik menggunakan metaphor, relasi sintagmatik lebih dekat kepada metonimi. Metonimi muncul sejauh ada satu signifier  utama yang menyatukan seluruh hubungan signifier yang maih terapung dalm ketidakpastian menjadi satu keutuhan. Hanya setelah berada dibabwah “komando” signifier utama makna yang berada dialam tak sadar naik ke tingkat kesadaran. Adgium lacan mengatakan bahwa ktaksdaran terstruktur seperti bahasa. Dengan kata lain kesadaran berbahasa dikendalikan oleh struktur bahasa di alam ketaksadaran. Relsi penandaan pada bentuk sintagmatik tidak muncul dari hubungan antara tanda dengan tanda-tand lain dalam dirinya sendiri. Melainkan, ia dipengaruhi apa yang oleh Freud disebut dengan displacement.
Metonimi terkait dengan cara penanda-penanda terhubung dengan penanda lain membentuk rantai penandaan yang memberikan jalur tempat bekerjanya identifikasi dan hasrat.

 

“Aku” dan Fantasi
Dalam film Pitch Adam, Robin William, mencoba menerapkan cara-cara yang berbeda dalam mengani pasien. Dia tampaknya memahami bahwa ilmu-ilmu kedokteran modern selalu melakukan reduksi terhadap pasien. Orang sakit kemudian dipanggil dengan nama penyakitnya. Hal ini berangkat dari paradigma pengobatan yang berasumsi bahwa penyakit adalah murni soal biologis. Tetapi bagi Pitch-tokoh utama dalam film tersebut-penyembuhan penyakit tidak dapat dilepaskan dan berkait erat dengan kondisi mental. Pitch, mencoba menggali fantasi dan dari situ membangun harapan hidup pada diri pasien. Terapi ini ternyata mempercepat proses penyembuhan. Seorang nenek yang menderita gangguan ginjal akut ia coba gali fantasinya. Sang Nenek mengatakan;” aku ingin mandi di kolam yang dipenuhi mie”. Pitch mewujudkan fantasi si nenek. Karena hal itu baginya adalah bagian dari terapi peyembuhan.

 

Fantasi dalam konsepsi Lacan merujuk pada apa yang tersisa dari represi tatanan simbolik. Fantasi berada pada lavel Yang Real. Ia menyebutnya obyek a. sebuah obyekyang berharga atau bahan yang terkait dengan yang real. Dorongan ini tersusun dari yang real dari tubuh seorang subyek melalu rantai penanda tidak sadar yang dibentuk oleh tuntutan liyan yang berlangsung simbolik. Hal ini terjadi misalnya ketika kita mengidentifikasikan diri dengan penanda-penanda utama (laki-laki, perempuan, muslim, dsb) demi strukturasi dan interpelasi penanda tersebut dan demi kenyaman eksisitensial kita membedah diri kita dan mematikan bagian-bagianya. Bersamaan dengan itu munculah larangan-larangan yang tak sesuai dengan kehendak penanda simbolik. Meskipun demikian, kenikmatan yang dikorbankan tetap bertahan dan tampil dalam berbagai bentuk. Modus-modus hasrat yang direpresi ini tertanam dalam diri subyek membentuk fantasi yang memberikan hasrat terhadap rasa suka cita.

 

Pada analisis Lacan selanjutnya, dalam proses terapi psikoanalisis obyek a atau fantasi menjadi faktor penting dalam upaya membalik tatanan simbolik menuju ego ideal dan perubahan tata simbolik baru. Pasien atau yang dianalisis diajak untuk membuat pemisahan antara dirinya dengan kehendak penanda utama yang tak mampu diadaptasinya, kemudian ia akan melihat kembali apa yang tersisa oleh represi tatanan simbolik. Dan selanjutnya, ia melihat fantasinya atau obyek a yang tertanam dan bersembunyi didalam yang real.

 

Penutup
Lacan menyumbangkan nuansa baru dalam analisi diskursus kebudyaan. Ia menolak determinisme biologis psikoanalis Freud dan merevisi penegasan hubungan pemaknaan dalam tradisi semiotika Saussurian. Lacan melangkah lebih jauh dari Saussure dengan menilik secara lebih dalam apa yang mendorong hadirnya sebuah makna adan berartinya hubungan panandaan

 

Namun, dalam hemat penulis, Lacan justru terjebak dalam determinisme baru. Sejak awal, Lacan seolah-olah menegaskan bahwa manusia tak ubahnya seperti sesuatu yang tak memiliki pijakan. Apa yang dipikirkan, dirasakan, bahkan diri yang dikenalnya adalah buatan imajinasi alias ilusi semata. Manusia dalam pandangan Lacan sesungguhnya tidak memiliki kehendak bebas untuk menentukan siapa dirinya. Semua keinginan dan pembentukan dirinya distrukturasi oleh sesuatu diluar dirinya (Liyan). Liyan menjadi pusat yang maha perkasa. Individu tidak dapat utuh menjadi individu tanpa intervensi dan keterlibatan liyan. Lacan juga menolak keutuhan. Keutuhan hanyalah konsep imajiner yang sesungguhnya merupakan hasil refleksi dari tatanan simbolik. Keutuhan terpaksa direngkuh karena manusia memerlukan modal untuk menjalani hidup. Determinisme ekstrim ini mewarnai hampir seluruh bangunan teorinya.